Study Abroad? Apa Saja Persiapannya?

Halo semua! Selamat datang di artikel terbaru Catatan Si Thamrin!

 

Pada kesempatan kali ini Catatan Si Thamrin akan berbagi tentang aplikasi ke Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN). Tim kami berhasil mewawancarai 4 dari sekian anggota MHT 10 (Dekarasha Metaraskaya). 4 orang ini adalah Kak Sasha yang diterima di Singapore University of Technology and Design, Kak Shalihah di Nanyang Technological University, Singapura, Kak Irsyad di Kyoto University, dan Kak Ayi di Leiden University. 

 

Penasaran dengan hasil wawancara kami? Yuk, langsung baca!

 

Kakak memang sudah dari dulu niat keluar, kah?

 

Kak Sasha menjawab iya.

“Tapi, tadinya gak mau SUTD. Justru baru tahu SUTD kek kelas 12. Dulu tuh mau ke Singapura dan hanya Singapura, gak pernah ngerencanain ke mana-mana. Dulu maunya NTU, NUS, dan emang daftar, tapi gak dapet,” tambahnya. 

Berbeda dengan Kak Sasha, Kak Shalihah menjawab tidak.

“Awalnya gua pengen FKUI, terus semester 2 pengen FK UGM. Eh, tiba-tiba kelas 11, teman gue Dafina sama Jara daftar Wardaya College, terus gua pengen ikut-ikut aja daftar. Gua juga telat daftarnya, seminggu setelah kelasnya mulai, soalnya gua memang kek gak suka banget UTBK. Nilai kurnas gua ancur di sekolah, ga paham-paham. Kalo Wardaya kan belajarnya Cambridge, dan gua suka Cambridge. Jadi, gua pikir ya udah lah, Singapura aja gitu. Nah, kalo buat univ lain yang kayak di Jepang, Hongkong, US, dll, kan persiapannya gak ribet-ribet banget. SAT juga selevel UN, ga terlalu susah. IELTS juga ya english, bisa dipelajari dalam waktu cepat, gitu sih,” ujarnya. 

Ka Irsyad mengiyakan pertanyaan ini.

“Kalo rencana keluar sebenernya udah lama sih, dari kelas 11 semester 2,” tambahnya.

Begitu pun dengan Kak Ayi.

It has always been a dream of mine to go to a uni abroad,” katanya.

 

Gimana Timeline persiapan kakak?

Kak Sasha mengambil ujian Cambridge AS Level di kelas 11. Awalnya, ia berniat untuk mengambil A Level di winter, tapi ternyata ujian winter dibatalkan.

“Nah, tadinya niatnya tuh mau reasoning Oktober terus subject November, kalo ga salah. Tapi center gue, JIS, nge-cancel mulu kan, jadi akhirnya gue cuman Subject di Desember dan ngambil IELTS di November. Reasoning gak jadi. Habis itu, gue intensif buat ujian NTU di Februari. Udah beres ujian-ujian,” jelas kak Sasha. 

Kak Shalihah mengungkapkan bahwa persiapannya sudah dimulai sejak Mei 2020.

“Itu Cambridge summer, gua ambil A Level Math sama AS Level Physics biar bisa lanjutin A2 Physics sama A Level Further Math di winternya (Oct 2020) (karena most univ yang pake Cambridge minta minimal 3 subject Cambridge). Tapi ternyata winter 2020 di-cancel akibat COVID, jadi ga jadi ambil.

Terus abis Camb summer selesai, bulan Juni start siapin SAT Subject buat tes bulan Agustus. Nah, angkatan gua emang dihitung cepet, udah mulai SAT dari Agustus. (MHT) 09 baru mulai SAT Okt/Nov gitu. Bagusnya kayak angkatan gua, sih. Kan SAT tiap bulan ada, biar kalo nilai Agustus jelek, bisa retake di Sept, Okt, Nov, dst. Terus abis SAT Agustus kelar, gua IELTS Okt, itu setelah les IELTS dari bulan Agustus. Sebenernya, sertif IELTS kan validnya 2 tahun, kalo mau IELTS-nya kelas 11 juga bisa, lebih enak malah. Terus Okt, Nov harusnya kan Camb winter tapi di-cancel. Terus, Desember gua SAT Reasoning. 

Terus, Desember kan semua univ open regist, sibuk dah tuh ngurusin apply tiap hari sampe Januari. Oh, kan gua apply univ di Amerika juga, ada 5. Kalo Amerika justru yang paling diliat personal essays-nya, itu satu univ bisa minta 5-7. Tapi, ya ada beberapa yang topiknya sama, jadi bisa recycle essay. Itu gua start ngerjainnya H-100. Kalo univ US, ada free advisor dari US embassy di Indonesia, namanya educationUSA. Gua daftar itu. Jadi, seminggu dua kali Zoom sama advisor-nya ngomongin essay, scholarship, etc. Terus ya alhamdulillah kelar dalam 100 hari essay yang banyak banget itu.

Februari, University Entrance Examination (UEE) NUS, NTU. Tapi, NUS di-cancel karena COVID, jadi NTU doang. Tahun ini mundur sih jadi Maret, gara-gara COVID juga. Jadi, dari kelas 11 sampai Maret 2021 yaa di Wardaya College belajar buat nyiapin ini. Udah kelar deh,” ujarnya.

Sementara Kak Irsyad berkata,

“Jadi, timeline-nya ya, IELTS waktu itu 27 Oktober.”

Untuk daftar, Kak Irsyad menggunakan Cambridge dan SAT.

“Kyoto butuh standardised test (Camb/SAT Subject) sama SAT biasa (Reasoning), tapi kan sekarang ga ada SAT Subject. Persiapan SAT waktu itu sekitar 4 bulan soalnya tanggal ujiannya diundur mulu, akhirnya tes 5 Desember. Waktu itu cuma ngambil SAT biasa,” ujarnya.

Lain hal dengan Kak Ayi. Ia berkata

“Aku pertama ambil SAT di September. Tapi karena nilainya masih kurang, aku retake di Desember. Aku ambil SAT Subject math level 2 & biology. Sebenernya Leiden cuman butuh nilai math-nya buat menuhin math requirements, tapi aku ngambil bio juga untuk apply ke univ lain. Terus kalau IELTS aku tes di bulan November. Aku les persiapan IELTS kalau gak salah mulai dari Agustus. Menjelang akhir November baru aku mulai ngerjain motlet (motivation letter) karena application deadline-nya itu 1 Desember. Nilai SAT aku nyusul submit-nya karena waktu itu SAT test date November di-cancel dari sananya jadi aku terpaksa ambil di Desember.”

 

Dokumen apa aja yang dibutuhkan?

Dari kesimpulan yang telah diambil dari hasil wawancara, berikut adalah dokumen-dokumen yang dibutuhkan ketika mendaftar Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN);

  1. Recommendation letter
  2. Raport semester 1 sampai 4 atau 5
  3. Nilai dan sertifikat ujian Cambridge atau SAT
  4. Nilai IELTS 
  5. Sertifikat lomba atau kegiatan
  6. Motivation Letter
  7. Esai

 

Apakah ada minimal nilai untuk daftar?

Menurut Kak Sasha, jika secara teknis tidak ada.

“Tapi, kalau rule of thumb for sing univs tuh 85. Kalau di bawah itu ya, don’t lose hope tapi jangan terlalu ngarep juga. IELTS tuh biasanya >6.5 kalau mau keterima dan >7 kalau mau dapet beasiswa. SAT tuh, nggak ada sih setau gw. kek biasanya yang >750,” tambahnya.

Sementara, Kak Irsyad berkata,

“Minimal IELTS tuh 6 overall dan standardized test setinggi tingginya.”

Kak Ayi mengatakan hal yang kurang lebih sama seperti Kak Sasha.

“IELTS minimum overall score 7.0, minimum component score 6.5. Math requirements don’t state a specific minimum score,” ujarnya. 

 

Tips membuat motlet apa kak?

“Satu, find a good hook yang spesial biar yang nge-judge baca lebih dari 2 kalimat dan dua, jual mahal diri sendiri. Lu jual mahal diri lu sendiri seabis-abisnya. Kenapa univ bakal seneng punya lu dan juga bagaimana univ bisa bantu lu lebih hebat lagi,”

detail Kak Sasha.

Sedangkan menurut Kak Shal, setiap negara memiliki preferensinya masing-masing. Contohnya, esai yang ditujukan untuk universitas di Amerika Serikat harus memiliki kalimat yang dirangkai dengan bagus, sehingga ia menyerupai novel.

“Soalnya, satu esai bisa 600 words. Kalau Asia biasanya cuma 300, 150 juga ada. Jadi ya, kalimatnya biasa-biasa aja, yang penting maksudnya dapet. Gak perlu elaborate lebih lanjut.”

Menurut Kak Irsyad, tips dalam membuat motlet ada 2, yaitu jujur dan menulis berstruktur.

“jelasin kenapa mau ambil di sana, kenapa mau di jurusan itu. Jelasinnya juga ga cuma saya pengen ini karena ini. Tapi sebut juga apa yang bisa didapetin long term kalo misalnya diterima dan masuk di jurusan itu Kalo ada personal experience masukin,”

detail Kak Irsyad.

Sedangkan Kak Ayi memberikan tips yang lengkap untuk pembaca Catatan si Thamrin. Menurutnya,

“Kalau cara aku rasa setiap orang punya cara nyaman masing-masing buat nulis. Menurut aku yang penting itu buat coba nulis aja. We might get a bit hesitant at first to actually write things down, but trust me, it helps. Kalau cuman dipikirin terus malah bikin pusing aja. Another tip is to be true to yourself, be authentic. Jangan tulis kalimat-kalimat klise yang anyone else can easily jot down. And to be able to do this, I had to take a few days with myself and just recollect some moments of my life

Tip is a very famous one, “Show, don’t tell.” If, say, you have a passion in math. Then just don’t just say “I really like studying math.” Instead, show them what you’ve been doing in terms of that passion of yours. Competitions, teaching others maybe, anything to show your love for it. The fourth tip probably can’t be applied to all kinds of motlets but I think it’s good to have a certain topic/theme for your essay. Tell them a story, an interesting one. You want the admission officers to read your letter and take a liking to you.

 

Gimana cara buat recommendation letter?

Kak Sasha berpendapat bahwa hal terpenting adalah untuk menjadi dekat dengan guru.

“Kek walas atau mungkin pernah privat ama guru itu. Terus, kalian minta mereka tulis reclet (recommendation letter). Kalo ga punya ya, ujung-ujungnya biasanya ama Bu Durra,” tambahnya.

Kak Shalihah di sisi lain lebih membahas isi dari recommendation letter itu sendiri.

“Biasanya strengths muridnya, kayak hal-hal yang bisa dipamerin gitu lah. Weaknesses sama how we handle them, dan kenapa kita fit ke univ yang kita daftar.”

Kak Irsyad berkata,

Nah ini, Waktu itu gw dikasih template, Jadi gw tinggal ngikutin template itu aja Emang sih itu harusnya tugas guru Tapi ya Mau gmn lagi.

 

Ada pesan untuk orang-orang yang mau ngambis ke luar?

Menurut Kak Sasha, jangan merasa minder walaupun nilai kurang, karena univ luar tidak hanya melihat nilai saja, tetapi juga achievement di luar nilai. Menurut Kak Irsyad, jika ada niat pasti ada jalan, jadi ga usah takut untuk mendaftar. Menurut Kak Ayi, explore far and thoroughly. The process might be tough but it’s gonna feel very worthwhile when you get that acceptance letter.

 

Oke! Jadi, itulah hasil wawancara tim Catatan si Thamrin dengan mereka. Untuk kalian yang ingin masuk PTLN, SEMANGAT! Sekian dari kami, sampai bertemu di artikel berikutnya!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *