Masuk Sekolah Mendadak? Asrama Belom Dibuka?! Seputar Kebijakan PTM 100% Dan Gimana Rasanya Pulang-Pergi Di MHT?

Halo, pembaca setia Catatan si Thamrin!

Kali ini, kami kembali dengan artikel baru,

Masuk sekolah mendadak? Asrama belom dibuka?! Seputar kebijakan PTM 100% dan bagaimana rasanya pulang-pergi di MHT?

Seperti yang kita ketahui, menyambut semester genap tahun ajaran 2021/2022, melalui SKB empat Menteri dan keputusan pemerintah DKI Jakarta, semua satuan pendidikan termasuk MHT wajib melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100%. Meskipun di tengah meningkatnya kasus COVID-19 dan varian Omicron pasca-Nataru (Natal dan Tahun Baru).

Memang banyak sekali kontroversi yang muncul dari berbagai pihak mengenai keputusan ini.

SMAN Unggulan MH Thamrin sebagai sekolah berasrama dengan murid yang rumahnya bervariasi jaraknya tentu menjadi masalah yang tidak bisa diabaikan. Jarak yang jauh membuat siswa/siswi  dari MHT harus lebih mengeluarkan usaha, ya!

Banyak siswa MHT (terutama KJP) terkendala karena ongkos perjalanannya cukup berat. Orang tua pun, juga mau tidak mau harus mengantar-jemput anaknya di hari kerja. Belum lagi ada risiko membawa pulang virus COVID-19, membahayakan keluarga tercinta di rumah.

Sebagai narasumber, kami berkesempatan untuk mewawancarai beberapa perwakilan dari warga MHT, yaitu

*  Melisa Febriani sebagai siswi dengan rumah jauh
* J. Novaldy Eka P. dan J.  Novaldo Dwi P. sebagai siswa yang naik kendaraan umum
*  Ivanna Febrinta sebagai siswi yang ngekos
*  Yohanes Satria sebagai siswa dengan rumah dekat
*  Tante Arni sebagai orang tua murid
*  Bu Sudarwati dan Bu Titin Setyowati sebagai wakil guru-guru MHT
*  Pak Mufid sebagai wakil golongan pasien komorbid
*  Ms. Elvy sebagai wakil pihak sekolah

Yuk, langsung saja!👇

— Kalian rumahnya dimana sih? —

“Daerah Ciseeng, Bogor, jarak dari rumah ke sekolah 42 km.” – Melisa

“Kira-kira lebih dari 40 km.” – Dwi

“Aku rumahnya di Bekasi.” – Ivanna

“Kalau aku di Cipayung, 2-3 km dari MHT, perjalanan 7-10 menit.” – Yohanes

Ternyata anak-anak MHT daerah rumahnya beragam ya, pembaca! Yuk, ke pertanyaan selanjutnya.

— Pulang pergi naik apa? —

“Gua pulang pergi naik motor, dianter sama bokap.” – Melisa

“Pergi bisa dianter, atau naik bus, tapi kalau pulang naik bus. Kalau naik bus biayanya 3.500/ orang, jadi tidak terlalu besar. Kalau naik bus juga, udah ada di halte sejak jam 5.00 pagi. ” – Eka, Dwi

Eka dan Dwi

Eka dan Dwi

— Apa kalian setuju dengan kebijakan pemerintah tentang PTM 100%? —

“Dari gua pribadi jujur kurang setuju dengan kebijakan PTM PP, karena yang kita ketahui MHT itu sekolah berasrama dan rumah peserta didik itu rata-rata jauh semua jaraknya dari sekolah. Dan memberatkan orang tua yang bekerja tetapi harus mengantar anaknya sekolah pulang pergi. Mungkin ada opsi lain kita bisa ke sekolah naik angkutan umum, tapi kondisi pandemi sekarang yang membuat naik angkutan umum sangat riskan terpapar virus karena bertemu dengan orang banyak.

Kita juga kelelahan dan menyita banyak waktu di jalan bagi yang rumahnya jauh. Tapi di samping itu ada banyak sisi positif dari kebijakan PTM PP ini. Peserta didik jadi semangat untuk belajar dan bisa bersosialisasi dengan teman teman. Selama belajar tatap muka pun kita bisa fokus mendengarkan penjelasan dari guru tanpa ada distraksi.” – Melisa

Bagus, setuju aja karena materinya jauh lebih gampang ditangkep kalau PTM.” – Eka

“Setuju aja siiih… Tapi kan MHT itu ada asramanya, jadi menurutku kalau kita bisa masuk asrama suasananya akan lebih kondusif.” – Ivanna

Hmm, ada plus minusnya ya, kebijakan PTM ini di MHT 🤔. Di satu sisi, mungkin KBM menjadi lebih lancar dibandingkan PJJ di Zoom, tetapi yang rumahnya jauh juga merasa terbebani! Kira-kira dari Kak Yohanes yang rumahnya dekat, ada pendapat apa?

“Harus setuju, karena kondisi udah herd immunity, munafik kalau nunggu sampe nol. Tentu saya setuju, tapi lihat kondisi MHT yang beda, perlu tinjauan lebih lanjut. Tentang PTM tanpa dibuka asrama, ga bisa menjawab tanpa keputusan lain. Harus pertimbangkan alasan asrama ga dibuka. Kalau ada alasan yang tertentu seperti belum ada izin Pemda. Tapi pada dasarnya saya lebih setuju PTM dengan asrama. Karena fundamental MHT itu sekolah asrama.” – Yohanes

— Perasaan kalian selama PTM 3 minggu ini gimana? —

“Lelah, banget. Mikirin kesehatan orang tua juga yang harus ikut bangun pagi dan anter jemput dengan jarak yang sangat jauh.” – Melisa

“Capek sih iya, tapi have fun… Dari segi gurunya ngajar ataupun dari temen-temen.” – Dwi

“Senang, tapi capek juga karena jarak rumah ke sekolah jauh.” – Ivanna

Wah, keren ya semangatnya mengikuti PTM setiap hari, supaya tidak tertinggal pelajaran!

— Capenya selama PTM ini worth it ga? —

Sebagai wakil dari teman-teman yang rumahnya jauh, apa sepadan pro and cons selama berjalannya PTM di MHT?

“Bermakna sih, pasti, karena setiap hal yang terjadi itu ada hikmahnya. Gua jadi tau rasanya berjuang demi pendidikan. Di sekolah juga gua lebih ngerti sama materi yang dipelajari. Tapi walaupun begitu orang tua gua sendiri tetep prioritasin kesehatan. Jadi ga terlalu maksa gua buat selalu datang ke sekolah.” – Melisa

“Menurutku gak worth it karena di perjalanan pulang aku bisa menghabiskan waktu 2 jam sedangkan perginya bisa sampai 3 jam. Jadi kecapekan di jalannya aja.” -Ivanna

Kalau sebagai yang nggak ada masalah karena jarak rumah, gimana jawaban Kak Yohanes nih?

“Pasti worth it. Kalau kita tetap PJJ, tidak bisa dipungkiri loss learning bakal terjadi. Integritas selama online tidak dapat diuji dengan baik. Kadang berbuat sesuatu karena ada kesempatan, seperti contohnya berbuat kecurangan. Tapi kalau kita PTM, kesempatan itu diperkecil, dan segala hal bisa dinilai dengan baik.” – Yohanes

— Efektif ga pelajaran selama PTM? Sementara banyak jam pelajaran yang dipotong? —

Sebagai catatan, selama PTM, jam pelajaran dalam sehari dipotong menjadi hanya 6 jam pelajaran (dari yang normalnya 9 jam pelajaran). Jadi tentunya banyak jatah jam pelajaran yang hilang dari seharusnya, nih, termasuk pelajaran eksak yang menjadi unggulan dari MHT!

Efektif nggak sih, menurut kalian?

“Menurut gua itu kurang ya, tapi tergantung guru-guru yang mengajar juga untuk keefektifan waktu belajarnya. cuma ga enak banget sih kalo ada jadwal ujian dan jam pelajarannya itu pendek :’D” – Melisa

“Jauh lebih efektif sih, karena kalo PTM ini walau jamnya sedikit, kalo nanya itu enak dan gampang banget.” – Dwi

“Sebenarnya efektif untuk yang rumahnya relatif dekat, kalau yang rumahnya jauh seperti aku akan lebih capek di perjalanan daripada KBM-nya. Tapi kalau belajar tatap muka seperti ini kan jadi lebih mengerti dibanding PJJ.” – Ivanna

“Pasti lebih efektif selama offline, pengawasan dari bapak ibu guru, pasti lebih jelas. Kalau online, kasarnya naruh HP di kantung pun bisa. Saya pribadi tetap offline, karena saat online banyak sekali gangguan, magnet tempat tidur dll, itu sangat menarik. Kalo offline nunduk dikit aja udah ditegur guru. Meski offline lebih sedikit, dengan jadwal yang didesain sedemikian rupa, tapi pelajaran pelajaran inti tetap pada ranahnya.” – Yohanes

Wah, ternyata sebagai siswa sekolah unggulan pun, banyak juga ya godaannya selama PJJ, hehe. Buat pembaca sekalian, ternyata memang, perkembangan teknologi harus diikuti dengan tanggung jawab dari penggunanya, ya! Selama kita bisa disiplin untuk menjalankan kewajiban sebagai pelajar, di masa depan kita bisa belajar tanpa terhalang oleh jarak.

— Menurut kalian, apa sekolah sudah menjalankan protokol kesehatan dengan baik?–

Nah, gimana nih kekhawatiran kalian dengan PTM 100% di tengah naiknya kasus COVID di Jakarta?

Kalau di MHT, protokol kesehatan resminya mencakup pengecekan suhu badan di pagi hari, jalur masuk yang berbeda-beda untuk setiap angkatan, menyediakan wastafel cuci tangan, dan mematuhi 5M.

Menurut kalian, apa itu sudah cukup? Dan apakah semuanya sudah menjalaninya dengan tertib?

“Udah bagus kok, semuanya pada matuhin prokes.” – Eka, Dwi

“Kita tidak bisa bilang bahwa sudah baik 100%, tapi dengan pengecekan di depan, membagi jalur masuk, itu sudah upaya yang dilakukan untuk mencegah adanya penyebaran COVID-19. Tapi semuanya masih perlu ditingkatkan lagi.” – Yohanes

— Apa yang menjadi motivasi selama PTM? –

Sebagai golongan yang paling berjuang karena daerah rumah kalian, apa sih yang membuat kalian tetap mau pulang-pergi ke sekolah setiap hari?

“Motivasi tetep berjuang PTM walaupun rumah jauh? Hmmm, karena pengen ketemu temen temen sih. Dan kalo ada hal lain yang emang mengharuskan gua ke sekolah, gua akan ke sekolah.” – Melisa

“Setiap hasil butuh proses, proses pasti butuh perjuangan.” – Dwi

“Karena mungkin kalau PJJ lebih mudah tertinggal pelajaran, dan rasanya tuh jadi males. Males liat laptop, males ngapa ngapain, bisa tiduran pas PJJ… Sedangkan kalau PTM gini kan gak bisa. Jadi lebih semangat dan produktif dalam belajar.” – Ivanna

Kalau dari kak Yohanes, mestinya yang paling semangat dateng dong! Apa nih yang beda dari yang lain?

“Pertama adanya aturan yang mengikat. Karena adanya aturan yang tidak membolehkan blended learning untuk sekolah yang memenuhi kriteria. Kedua, keinginan untuk mendapat suatu hal dengan baik. Ketiga, bentuk penghargaan kepada bapak ibu guru yang rumahnya lebih jauh jaraknya dari saya, itu bisa ke sekolah, apalagi ada yang usia sudah mendekati, kita yang kondisinya lebih prima, tidak ada alasan untuk menolak. Selain itu bertemu teman juga menjadi motivasi, 1 tahun 8 bulan ga ketemu teman teman. Kalau kita tulis pro and cons itu terlalu timpang.” – Yohanes

Yohanes

Yohanes

— Apa kalian setuju kalau asrama dibuka? Kenapa? —

“Setuju, karena pertama biar pulang pergi ga capek capek banget. Kedua biar lebih gampang sosialisasi sama temen temen.” – Eka

Setuju, setuju banget – Ivanna

Sangat setuju, MHT adalah sekolah boarding. Tapi dengan segala aturan yang akan berlaku di kondisi pandemi. Kalau sekolah sampai jam 2 pun juga ga akan jadi masalah, karena dari kelas ke asrama juga ga sampai 100 meter. Selain itu dengan asrama juga bisa mengurangi kelelahan, jam belajar dan istirahat juga bisa lebih.” -Yohanes

Wah, ternyata semuanya sepakat kalau asrama bisa meringankan semua pihak! Tapi, sayangnya asrama MHT hingga hari ini belum dibuka oleh pihak sekolah.

Eits, jangan kecewa dulu! Ternyata berdasarkan konsensus komite, sekolah menawarkan kalau teman-teman yang rumahnya jauh boleh lebih dulu masuk asrama, tapi… (ada tapinya 😁 ) sekolah belum bisa menyediakan biaya sehari-hari, nih.

— Apakah tetap setuju kalau asrama dibuka tapi biaya makan, dll. ditanggung sendiri? —

“Kalau itu, kita juga harus memperhatikan keputusan pemerintah. Karena dalam keputusannya memang belum ada anggarannya. Sebagai bentuk upaya kita, saya pribadi setuju, karena kalau kita menginginkan suatu hal, tentu perlu effort, ga ada hal yang gratis. Menurut saya toh di rumah pun makan meski pun akan sedikit lebih mahal 10 – 20%. Jadi intinya saya pribadi setuju karena itu memang sudah menjadi konsekuensi kalau kita ingin membuka asrama dalam waktu dekat. Dengan catatan jika memang sudah ada anggaran, itu semua luruh.” – Yohanes

 — Ada hal lain yang mau disampaikan? —

Mewakili dari teman-teman MHT yang berbeda-beda situasi dan kendalanya selama berjalannya PTM ini di MHT, Kak Yohanes apa ada yang mau disampaikan?

“Buat adik-adik dan teman-teman…. Suatu peraturan pasti dilandaskan dengan suatu hal. Tidak mungkin peraturan dibuat tanpa memikirkan pro dan kontranya. MHT sebagai pelaksana keputusan, yuk jangan terus membuat huru-hara, ayo sama-sama memperjuangkan apa yang kita inginkan dengan cara yang baik, ikuti aturan yang ada saat ini, dan jangan menuntut banyak hal, tapi ga mau mengeluarkan usaha apapun.” – Yohanes

— Dengar-dengar kamu (Ivanna) sampai memilih ngekost mandiri nih ya? Memang nya gak takut? Ceritain pengalamanmu kost dong! —

“Iya benar. Takut… Awalnya takut, tapi kan ditemani dua orang temanku, jadi lebih tenang. Awalnya kan temanku nawarin kos-kosan, terus mamaku juga setuju… tapi awal-awalnya ada rasa takut untuk tinggal sendiri. Eh ternyata semenjak masuk kost jadi lupa rumah gitu.” – Ivanna

Ivanna

Nah, cukup segitu untuk wawancara dari siswa/siswi MHT ya, pembaca. Mari lanjut!

*******

Selanjutnya, kita wawancara pihak orang tua murid (OTM) MHT yuk!

Banyak pihak orang tua murid yang memiliki keluhan karena keberatan dengan kebijakan PTM di MHT nih. Misalnya, ongkos perjalanan yang mahal kalau nggak ada opsi bus atau kereta,  atau alternatifnya mau tidak mau harus mengantar-jemput anaknya setiap hari, di hari kerja.

Kali ini, kami mewawancara narasumber Tante Arni, orang tua salah satu siswa MHT angkatan 13.

Tante Arni

— Tante setuju ga sama PTM 100%? —

“Kalau melihat dari belajar yang online, anak-anak terlihat tidak serius jika online, karena guru-guru juga tidak bisa mengawasi secara langsung. Kalau online, yang penting laptop nyala, bisa sambil tiduran, sambal mendengar. Kalau PTM, pasti bisa fokus dengan apa yang diberikan dan lebih mudah dicerna. Jadi Tante lebih senang dengan PTM seperti ini ketimbang online.

Selain itu, peraturan juga pasti diikuti, bisa jadi lebih disiplin. Tidak bisa terlambat. Kalau online juga sering banget nunda nunda tugas. Kalau offline kan, pasti mengerjakannya. Karena apa yang kita serap juga juga dari PR, tugas, dll. Kalau Tante liat semasa online, tugas tinggal googling, seperti tidak ada usahanya, sehingga mungkin tidak ada yang masuk. Nah kalo offline kan, main HP aja ga bisa, harus buka buku dan jadinya belajar.”

Wah, ternyata memang selama PJJ, anak-anak MHT pun masih sulit untuk disiplin dalam mengikuti KBM, ya!😅

 — Jarak dari rumah ke MHT? Mengantar anak pakai kendaraan apa? —

“10 km dan pakai kendaraan roda empat.”

— Selama ini apakah pengeluaran membengkak untuk pulang pergi? —

“Pastinya.”

— Apakah tante cape mengantar anak pulang pergi setiap hari dengan rumah yang bisa dibilang cukup jauh? —

“Saya kembalikan, ini untuk anak, masa depan anak. Maka Tante harus berkorban. Cape, apa itu sudah menjadi konsekuensi orang tua, jadi Tante ga pernah ngeluh cape atau gimana. Karena itu memang untuk anak sendiri.”

Wow, keren ya, pengorbanan orang tua supaya anaknya tetap bisa mengikuti PTM di sekolah! Gimana menurut kalian, pembaca?

— Adakah saran untuk sekolah yang mungkin bisa mudahin orang tua? —

“Karena di sini sekolahnya berasrama, mungkin asrama bisa dipercepat untuk dibuka.”

Sekian hasil wawancara dengan tante Arni, pembaca!

*******

Terakhir, yang menjadi narasumber kita yaitu guru-guru MHT, nih!

Ada guru bahasa Indonesia, yaitu Ibu Sudarwati dan Bapak M. Rieza Mufid, guru Matematika Cambridge, Ibu Titin Setyowati, dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ms Elvy Usmirawati.

 Bapak/Ibu tinggalnya di mana? Persiapan dari rumahnya bagaimana? –

“Saya tinggalnya di daerah pondok rangon, jarak ke sekolah sekitar 7 km. Untuk perjalanan ke sekolah bisa menggunakan transportasi yang beragam, tapi lebih dominan menggunakan gojek dengan durasi perjalanan rata rata 15-20 menit. Oleh karena itu , pukul 05.45 sudah harus siap.” – Bu Sudar

“Rumah di Jatibening, Bekasi, sekitar 7 km. Berangkat pakai kendaraan pribadi mobil. Jam 2 pagi bangun buat persiapan diri (ibadah makan dll), setelah subuh sarapan dan perjalanan sekitar 40-50 menit pakai mobil atau 30 menit pakai motor” – Pak Mufid

Wah, ternyata lumayan, ya!

– Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu terkait kebijakan PTM 100% dari pemerintah? –

“PTMT pada semester gasal TP 2021/2022 adalah sebagai pelaksanaan kebijakan atas 1) SKB 4 MENTERI yakni Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri (15/KB/2021, 1347/2021, HK.01.08/Menkes/6878/2021, dan 443-5847/2021) tentang Penyelenggaraan PTMT pada masa pandemi Covid-19, serta 2) Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Prov. DKI Jakarta No 1363/2021 tanggal 29/12/2021.

Kebijakan PTMT ini sebagai upaya untuk memfasilitasi pembelajaran yang layak bagi semua peserta didik, menghentikan “learning loss” yang mengakibatkan menurunnya tingkat “intelektualitas” karena terganggunya proses pendidikan secara nasional. MHT sebagai sekolah yang berada pada NKRI harus mengacu pada ketentuan yang berlaku secara nasional. Oleh karena itu, MHT menyelenggarakan PTMT sesuai dengan arahan dan kondisi internal MHT sendiri termasuk kurikulum dan sarpras yang mendukung.” – Ms Elvy

“Mengenai PTM 100% di sekolah, khususnya di Jakarta, sebenarnya kebijakan ini pun diambil oleh pemerintah dengan matang dan dengan segala resiko yang akan timbul. Kita sebagai warga DKI ya tentunya mengikuti bagaimana aturan pemerintah yg ada. Dan yang terpenting adalah tetap mematuhi PROKES. Semua warga sekolah yang terlibat wajib mematuhi prokes dan menegur jika ada yang melanggar. Kedepannya juga pasti pemerintah akan ada evaluasi mengenai PTM 100% ini. Kalau dari sudut pandang beberapa siswa di kelas yang pernah tatap muka yang saya ajar mengatakan bahwa pembelajaran tatap muka lebih efisien dan lebih bermakna karena sedikitnya distraction dinding online learning.” – Bu Titin

“Kalau PJJ pasti ada yang namanya loss learning. Selain itu, saat PJJ ada yang kurang enak, seperti sebelum mulai harus dipanggil – panggil dulu sehingga mempengaruhi komunikasi. Seharusnya pada sebuah komunikasi saling bertatapan, dsb, tapi ketika zoom banyak yang offcam. Ini kami pahami karena mungkin ada masalah kuota/jaringan. Kami guru-guru tidak tahu kalian di zoom apakah mendengarkan atau tidak, atau malah ditinggal tidur, hal tersebut membuat pembelajaran kurang maksimal dan bisa mempengaruhi semangat kami. Tapi kami berusaha terus semangat dan harus siap menghadapi apa yang ada di depan.”  – Bu Sudar

“Kalau dari saya, setuju. Satu, kompleksitas, karena pengajaran media daring berbeda dengan luring pasti ada yang terlewat (loss learning). Juga guru tugasnya bukan hanya mengajar, guru itu mendidik. Kalau mendidik secara daring berbeda dengan mendidik secara luring, mendidik harus bertemu dengan orangnya. Dua, dengan bisa bertemu langsung para guru bisa melihat bahwa siswa paham atau tidak dengan materi berbeda dengan bekerja di kantor yg bisa WFH. Tiga, juga jika daring banyak kendala secara teknis seperti jaringan internet, atau untuk yang afirmasi tidak bisa daring karena gawai dipakai oleh saudaranya”  –Pak Mufid

Guru-guru sepertinya kebanyakan setuju dengan adanya risiko learning loss selama PJJ, ya! Kira-kira, gimana menurut pembaca?

Selain itu, Bu juga Titin sudah menegaskan kalau prokes harus dipatuhi dengan ketat nih, pembaca! Mudah-mudahan KBM selama PTM ini dapat berlangsung dengan aman, ya.

Bu Sudarwati

— Apakah PTM tetap lebih efektif, meski durasinya lebih pendek daripada PJJ? —

“Saat ini dapat dikatakan PTMT lebih efektif dan secara gradual durasi dan jumlah jam pelajaran akan dikembalikan sesuai struktur kurikulum yang telah dirancang oleh MHT seiring dgn kondisi pandemi yang semoga segera berlalu. Beberapa pertimbangan telah dilakukan yang tentunya disesuaikan dengan kondisi internal MHT, namun secara umum kebijakan terkait durasi 6 JP/hari adalah kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta. MHT berupaya memfasilitasi kondisi ini dengan mengatur bobot dan durasi tiap mapel sehingga diupayakan masih dapat mewadahi muatan kurikulum Cambridge di MHT.” – Ms Elvy

“Untuk kebijakan sementra ini PTM yg durasi nya lebih pendek akan lebih efektif jika dibarengi dengan memanfaatkan diskusi via online sepert kegiatan tutor yang bisa memotivasi teman-teman lainnya untuk memahami materi yang tertinggal. Atau bisa juga diskusi melalui WA group bersama guru, pasti guru akan sangat senang sekali jika siswa aktif bertanya saat di kelas maupun di virtual class.” – Bu Titin

“Ibu pribadi, dari pandangan ibu yang sering mengajar kelas 12, dimana kami sering bahas soal. Rasanya lebih dapat ketika PTM, karena murid murid juga terlihat semangatnya, sehingga saat PTM ini sangat efektif dari keberhasilan pembelajaran. Sebenarnya pada akhir-akhir, durasi belajar Ketika PTM dan PJJ kurang lebih sama, karena ketika PJJ ada banyak kendala seperti jaringan, atau banyak yang belum hadir di zoom, dsb. Sehingga jauh lebih efektif Ketika PTM. Pada intinya, ibu lebih memilih tatap muka dengan segala resiko yang ada.” – Bu Sudar

Nah, memang pemotongan jam ini paling berefek pada mata pelajaran yang butuh banyak latihan seperti matematika. Jadi, kita sebagai siswa ternyata harus tetap semangat mengimbanginya dengan belajar dan diskusi secara online, ya!

– Sebagai seorang guru, apakah ada anak murid ibu yang mengeluh tentang PTM perihal jarak, ongkos, dsb? –

“MHT adalah sekolah unggulan yang unik yang berbasis pada kompetensi siswa yang unggul dan bukan pada zonasi, sehingga saat PTMT ini lokasi beberapa rumah siswa menjadi kendala. MHT berupaya memfasilitasi hal ini dengan tetap melayani siswa yang “terpaksa” belajar dari rumah dengan beberapa skenario yang sesuai*. Sebagaimana sebuah kebijakan, tentunya dapat menimbulkan pro-kontra, berpotensi tidak dapat memenuhi kepuasan semua kalangan, hal ini bergantung pada “sudut pandang” yang digunakan. Kita semua berharap kondisi pandemi ini segera berakhir agar berbagai masalah pendidikan dan pembelajaran dapat diatasi dengan baik.”  – Ms Elvy

Miss Elvy

“Pasti ada, terutama dengan jarak, karena mht awalnya juga mht adalah sekolah asrama. Tentu banyak orang tua yang mengeluhkan jarak, tapi untuk kelas 12 ini bukan suatu masalah yang utama, karena mereka ada yang kos, menginap di rumah saudara dengan artian mereka tetap berusaha untuk tetap hadir. Bahkan ada yang rumahnya di Bekasi, tapi ia tetap hadir. Contoh lainnya ada anak yang sudah daftar les ini itu, dengan jadwal yang sudah bagus. Kemudian tiba tiba ada ptm ini yang merubah jadwal mereka, itu mungkin keluhan lain. Jadi meski banyak keluhan, mereka tetap hadir.” – Bu Sudar

Memang betul ya, pembaca, kalau banyak tantangannya untuk hadir di PTM ini! Seperti yang Miss Elvy bilang, sekolah tidak mewajibkan buat siswa/siswi yang mengalami kesulitan skenario untuk hadir nih!

Tapi banyak teman-teman kita yang berjuang supaya tetap hadir dan tidak ketinggalan pelajaran ya. Jadi makin salut buat teman-teman yang tetap datang meskipun banyak rintangan, nih!

– Apakah menurut Ibu asrama sebaiknya segera dibuka, atau menunggu saja? –

“Saat ini, asrama dapat saja dibuka atau tidak dibuka sangat bergantung pada ANGGARAN, SOP, dan SDM yang telah siap. Semoga MHT dapat mengalahkan “LEARNING LOSS” sehingga MHT TETAP YANG TERBAIK” – Ms Elvy

“Apapun keputusan yang diambil pihak sekolah dan dinas, pasti ada resikonya. Kalau kita berasrama, jarak tidak menjadi masalah, tapi omicron yang diprediksi akan meningkat pada Februari, tentu itu yang akan jadi masalah. Dengan peraturan asrama yang harus pulang 2 minggu sekali, lalu dengan teman asrama pasti akan kontak yang bisa membuat virus menyebar. Kalau tetap pulang pergi, kalian pasti akan sangat lelah, terutama yang rumahnya jauh. Tapi pada akhirnya, karena MHT adalah sekolah negeri, apapun keputusan yang diambil harus mengikuti persetujuan dinas. Kalau sudah asrama, diharapkan anggaran dapat keluar seperti sebelum pandemi ini terjadi. Tapi yang paling diharapkan pandemi ini segera berakhir.” – Bu Sudar

Rupanya kendala pembukaan asrama sudah dari dinas, ya! Mudah-mudahan bisa cepat terurus ya, pembaca!

– Komentar Ibu tentang COVID yang terdeteksi di beberapa siswa MHT? –

Sebagai catatan singkat, pada Sabtu lalu (22/01) terdeteksi belasan siswa yang terpapar COVID-19 nih, pembaca! Sehingga MHT diharuskan menghentikan PTM selama 2 minggu (23/01 s.d. 05/02). Ngeri, ya! Gimana komentar dari guru-guru, ya?

“Kasus covid di temukan di sekolah saat ini memang sedang santer, hal ini sebagai konsekuensi dari beberapa hal salah satunya adalah “kurang disiplin” menegakkan prokes oleh setiap individu dimanapun berada baik di rumah, di sekolah, dalam perjalanan pulang dan pergi ke sekolah,  saat menggunakan transportasi umum, dll. Pemicu lain adalah kondisi tubuh yang lelah/tidak fit sehingga memudahkan terjangkit virus dan penyakit lainnya, kurang olah raga, kurang mengkonsumsi makanan bergizi yang dapat meningkatkan imun tubuh, tingkat “stress” atau kecemasan yang bersumber dari diri sendiri atau orang lain, dsb. Jadi, tidak mudah menarik kesimpulan tentang penyebab kasus Covid di MHT. Seiring dengan multi-penyebab tsb, sulit dilakukan “tracing” atau pelacakan di mana atau dari siapa virus itu tersebar.

Yang penting kita lakukan adalah TEGAKKAN PROKES 5M dimanapun berada, jangan kendor, apapun kondisinya…. termasuk BERDOA kepada Allah SWT karena semua yang terjadi di dunia ini karena izin-Nya. Virus itu milik Allah, Tuhan YME, mohon kepada-Nya untuk selalu dalam lindungan-Nya. Kondisi PANDEMI ini memberikan kita pelajaran hidup bahwa kita harus selalu bersyukur dengan apapun yang kita hadapi dan alami. Manusia sepintar apapun, sekuat apapun tidak boleh sombong.” – Ms Elvy

“COVID itu terjadi karena adanya kontak langsung, tapi itu tentulah sudah qadarullah, tapi tentu saja sebagai manusia kita perlu usaha untuk mencegah. Kita ga perlu menyalahkan siapa yang membawa, siapapun yang terkena pertama, kita tidak perlu menyalahkan, tapi kitanya yang harus lebih tingkatkan lagi prokes kita. Dan yang pasti semua itu jangan sampai membuat kita patah semangat. Ketika kita hidup di lingkungan pandemi, dan kita keluar dari rumah kita, berarti kita sudah menerima resiko akan tertular.” – Bu Sudar

Semoga teman-teman yang terpapar bisa cepat sembuh serta tidak menularkan ke keluarga dan kerabat tercinta, ya! Mudah-mudahan (amit-amit) jangan sampai merenggut korban jiwa ya.

Oh ya, kita juga ada narasumber spesial nih. Tak lain adalah salah satu guru MHT yang memiliki komorbid, sehingga belum boleh divaksin, pembaca! Yuk, langsung saja bersama Pak Mufid kembali.

— Bagaimana pendapat Bapak tentang risiko tertular covid selama PTM sebagai pasien komorbid? —

“Saya sendiri adalah penderita komorbid yang tidak boleh vaksin, lalu yang harus saya lakukan adalah menjaga diri sebaik mungkin dan berinteraksi sedikit mungkin. Tapi itu kan ikhtiar kalau kena juga ya itu takdir. Saya melihatnya tujuan akhir dari pembelajaran ini adalah menghindari loss learning menghindari turunnya kualitas suatu generasi. Kalau resiko tertular kita tidak menafikan resiko tapi kita tetap harus menjalankan protokol kesehatan jika tetap kena itu takdir”

Mulia ya, niat Pak Mufid untuk mendidik siswa/siswinya! Semoga Bapak ditakdirkan tetap sehat selalu ya, Pak!

*******

Begitulah hasil wawancara tim Catatan si Thamrin dengan para narasumber.

Gimana? Kalau pembaca sekalian, pro atau kontra nih dengan kebijakan PTM 100% Silakan drop pendapat kalian di kolom komentar ya!

Sudah ya, cukup sampai di sini saja. Sampai jumpa di artikel selanjutnya! Bye-bye…!👋

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *