Berprestasi di Masa Pandemi Melalui FLS2N

Halo semua! Kembali lagi bersama artikel bulanan Catatan si Thamrin!

Wah, gak terasa sebentar lagi bulan September ya … rasanya beda banget ya sekolah di rumah berbulan-bulan dibanding datang ke sekolah. Tapi eitss, ada yang beda juga loh selain vibes sekolah daring dengan luring.

Hah? Kamu belum tau apa lagi yang beda dari biasanya? Artikel bulan ini dong! Berbeda dari artikel-artikel sebelumnya, kali ini tim Catatan si Thamrin akan mengangkat topik non akademik yaitu FLS2N!

Tim Catatan si Thamrin berhasil mewawancarai tiga orang narasumber peserta FLS2N 2021 yaitu Tya, Qinthary, dan Khansa. Penasaran, ‘kan? Yuk simak sampai akhir!

“Jadi awal-awal aku ke website FLS2N. Nah, di sini aku daftar jadi peserta tari, aku dibimbing juga sama sasbud (seksi Sastra Budaya) OSIS Adhana Mathavera. Di link itu banyak yang harus diisi juga, kayak persyaratan sekolah, data diri sendiri, data orang tua, dan harus ada pembimbing,”

jelas Qinthary saat ditanya mengenai tahapan FLS2N.

Layaknya kompetisi pada umumnya, ikut serta dalam FLS2N tentunya membutuhkan persiapan matang. Menurut Tya, durasi persiapan lomba tergantung pada karya yang dibuat.

“Waktu komik tahun lalu seminggu dua minggu,”

jelasnya. Qinthary sendiri menuturkan bahwa persiapannya terbilang cukup mendadak karena hanya tiga hari.

Sementara Khansa mengungkapkan bahwa ia tak membutuhkan waktu lama karena ia bersemangat dan langsung mendapat ide nada.

“Waktu itu masih ada waktu sekitar 2 mingguan, ya karena waktu itu banyak kerjaan jadi kayak ditunda tunda,”

cerita Khansa mengenai tahapan dari seleksi sekolah ke tingkat kota.

”Pas seminggu terakhir baru gua kerjain dan gua revisi, soalnya lagunya harus sama akhirnya, udah deh final.”

Salah satu tahap penting dalam persiapan FLS2N adalah mempersiapkan konsep karya. Sebagai referensi, narasumber kita akan menceritakan sedikit mengenai konsep karya mereka.

“Sebenernya gak banyak yang bisa aku ceritain sih, cuma mungkin aku sukanya ngasih ada twist sedikit ke temanya. Jadi gak sepenuhnya isinya bright positif gitu wkwk, tapi tetep tujuan intinya yang positif,”

jelas Tya.

Qinthary sendiri menceritakan bahwa karyanya terinspirasi dari pandemi saat ini yang menyebabkan orang-orang kesulitan mencari makanan dan takut keluar rumah.

“Dulu aku buat koreografi sama guru tartra (tari tradisional) aku, namanya kak Fahmi. Dia sama aku buat koreografi namanya tari antepin sregep waya,”

bukanya.

“Tapi tahap pertama kita buat koreo sedihnya tentang anak yang cuma bisa bantu pekerjaan rumah orangtuanya dan ga bisa bantu buat nyari uang ibaratnya, terus di stage ke 2 ada part seneng nya dimana mulai ada situasi new normal jadi anaknya udah boleh keluar,”

lanjutnya.

“Di stage 3 itu PPKM ibaratnya, mulai sedih lagi anaknya bisa diliat bawa kain putih di akhir yang artinya ‘no more food left’ gitu,”

tutup Qinthary.

Khansa sendiri mengungkapkan bahwa ia berharap lagu bertema semangat di masa pandemi karyanya dapat menjadi penyemangat di masa sulit.

“Gua sebenernya pengen buat EDM (Electronic Dance Music) gitu kan. Cuman karena dibolehin pake 1 alat musik aja, jadi gua pake piano doang dan itupun yahh lagu pop gitu.”

Di balik konsep menarik karya mereka, ternyata dua narasumber kita mengungkapkan bahwa ada beberapa kendala yang harus mereka hadapi selama persiapan FLS2N. Tya mengungkapkan bahwa kendala yang ia temui sebagai peserta FLS2N cabang poster antara lain kesulitan menemukan ide dan pewarnaan yang kurang pas. Sementara Qinthary memaparkan bahwa kendala terbesar yang ia temui adalah singkatnya deadline pengumpulan karya.

“Terus instruksi dari sananya kurang jelas gitu boleh ga kalo di edit gini. Ibaratnya di day ke 3 aku nari + edit sendiri,”

cerita Qinthary.

Namun ternyata, batas pengumpulan video diperpanjang sedangkan Qinthary sudah men-submit video tarinya.

Yauwess akhirnya pasrah bae, yang penting udah usaha.”

Berbeda dengan Qinthary dan Tya, Khansa mengungkapkan bahwa persiapannya relatif lancar.

“Mungkin ke arah yang dapet inspirasi tuh langsung muncul banyak, pas masa inspirasi kelar abis itu bingung mau nambah apa mau revisi apa, jadi gua harus mikir gitu dan banyak nanya ke orang.”

Selain mempersiapkan karya FLS2N narasumber kita juga harus membagi waktu dengan kegiatan sekolah, bagaimana ya caranya? Yuk, simak!

“Sejujurnya sekolah juga waktu FLS2N itu belum sibuk-sibuk banget, jadinya cari waktunya gak susah. Sama aku sendiri kerjaannya gak terlalu banyak sebenernya haha,”

tutur Tya.

Qinthary sendiri bercerita bahwa setelah pulang sekolah, ia berlatih sampai Maghrib.

“Terus kan ada PR PR gitu ya, aku kerjain sambil tutor malem. tapi pernah waktu itu ada rapat penting about MPLS, akhirnya aku latian nari sambil rapat.”

Khansa sendiri menuturkan bahwa walaupun ia ikut serta dalam FLS2N, ia tetap mengutamakan sekolah.

“Gua tetep nomor satuin sekolah ama organisasi jadi FLS tuh yah kayak kalau ada waktu kosong lah, jadi kayak ditunda tunda terus gitu,” ungkapnya.

“Alhamdulillah gua tuh tipe dapet inspirasi tuh langsung sreg keluar banyak tinggal finishing aja jadi gak makan banyak waktu.”

Eitss, tunggu dulu, belum selesai! Di bagian terakhir artikel ini, Tya akan membagikan pengalamannya mengikuti FLS2N 2020 hingga tingkat nasional!

“Karena tahun lalu udah lulus nasional yang komik jadi tahun ini ga bisa komik lagi. Tahun ini aku ikutnya poster,” bukanya.

“Kalau ditanya begitu sebenarnya aku sendiri juga kurang tau, karena gak kayak kalo olim sains atau yg lainnya yg ada jawaban clear mana yg bener mana yg salah, seni itu lebih subjektif, jadi walaupun udah berjuang sebisa mungkin, kalau jurinya beropini lain ya mau gimana lagi,”

balasnya saat ditanya mengenai perjuangannya sampai ke tingkat nasional.

“Jadinya cuma bisa do my best aja sih, berdasarkan visi aku sendiri sama tema yg diberikan dan gimana cara menyampaikan pesan yg ingin disampaikan sebaik mungkin.”

Nah! Demikian artikel Catatan si Thamrin edisi bulan ini! Gimana? Mau berprestasi dengan kreativitas kamu di bidang seni? Yuk, ikut FLS2N tahun depan!

Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *